Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jeritan Hati

 

Kepedihan Hati
Jeritan Hati

Judul Cerpen : "Jeritan Hati"

Penulis : Shopyan Hadi

Di kesunyian malam, Aku yang pada saat itu sedang sendirian menikmati bulan dan bintang dari depan teras rumahku  tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan kedua temanku yang datang membawa hadiah berupa kue ulang tahun. Nama temanku ialah Rani dan Rina. Aku pun berkata kepada mereka "Senang sekali rasanya ada teman yang peduli denganku, padahal Aku sendiri saja lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku". Ucap Aku kepada mereka berdua.


Rani dan Rina adalah kedua temanku yang setia menemaniku sejak kecil. Dahulu Aku, Rani dan Rina suka sekali bermain masak-masakan, petak umpet, congklak dan masih banyak lagi permainan yang Aku mainkan bersama mereka berdua. Bahkan mereka berdua suka menemani keluh kesahku di saat Aku sedang bersedih hati menghadapi berbagai masalah yang ku hadapi. 


Sayangnya, ketika Aku mulai masuk ke sekolah SMP, Kami dipisahkan dengan sekolah yang berbeda. Meskipun begitu, Kami tetap bermain bersama seusai pulang sekolah di sore hari. Hal itu terus berlangsung  sampai kami masuk ke Sekolah SMA.


Rani dan Rina bersekolah pada tingkat SMA di luar kota dari tempat tinggalku. Rani bersekolah di Kota Bandung ; Sementara itu, Rina bersekolah di Kota Bogor ; Sedangkan aku bersekolah di Kota Bekasi. sejak saat itu, kami bertiga tidak berjumpa lagi hingga saat ini.


Tibalah saatnya hari pertamaku masuk ke sekolah SMA. Di hari itu, Aku berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolahku dan juga berinteraksi dengan teman-teman baruku di sekolah tersebut. Pada saat itu, di kelasku ada teman yang menerima kedatanganku dengan sepenuh hati, Di sisi yang lain ada teman yang sangat membeci kedatanganku di kelas itu. 


Orang yang membenciku itu bernama Novita, sedangkan orang yang kelihatannya sangat menerima kehadiranku bernama Hani. Sejak hari itu, Aku tidak merasa nyaman ketika berada di dalam kelas karena diriku merasa seperti dikucilkan oleh Novita. Novita selalu mengucilkanku dengan perkataanya "Kamu mah orang yang bodoh, sekeras apapun kamu berusaha tetap saja di mataku kamu itu orang yang tidak bisa apa-apa dan tidak akan meraih kesuksesan di masa yang akan datang" Ucap Novita kepadaku dengan nada yang mengejek dan penuh gelak tawa. Aku pun yang mendengar hal itu tentu sangat marah kepadanya. Aku pun berkata "Cepat minta maaflah kepadaku atau kupukul wajah kau sekarang". Ucap Aku dengan nada yang sangat tinggi dan mata yang melotot melihat ke arahnya. Seketika itu, Hani yang pada saat itu ada di kelas pun segera melerai perkelahian mereka berdua dengan berucap "Sudahlah kalian berdua jangan ribut di kelas, segeralah saling memaafkan". Singkat cerita bel pulang pun berbunyi dan keduanya belum mau saling memaafkan.  


Aku pun segera pulang ke rumah dengan menggunakan sepeda, Namun, ketika sampai di depan halaman depan rumahku, Tetangga di depan rumahku memberitahu bahwa kedua orang tua ku mengalami kecelakaan lalu lintas hingga menyebabkan keduanya meninggal di tempat kejadian. Aku pun yang mendengar hal itu seketika itu langsung menangis dengan sangat kencang dan tidak terima dengan apa yang sudah menimpaku. Lalu datanglah Bapak Ustad Inggi yang menenangkan diriku yang sedang dilanda kesedihan yang mendalam dengan berkata "Semoga kamu diberikan kesabaran dan ketabahan oleh Allah dalam menghadapi semua musibah ini, yakinlah bahwa dibalik musibah yang terjadi ada hikmah di dalamnya". Mendengar nasihat itu Aku pun menganggukan kepalaku dan seketika batinku merasakan ketenangan. Sesudah Ayah dan Ibuku di kuburkan, datanglah Paman dan Bibiku menghiburku serta sekarang mereka berdua tinggal bersamaku untuk merawat dan menjagaku. 


Esokan Harinya, hatiku pun masih menjerit karena mengingat kenangan yang indah bersama Ayah dan Ibu. Lalu Aku diajak oleh Paman dan Bibi ke kubur kedua orang tuaku untuk membacakan doa kepada keduanya dan Aku disuruh mengeluarkan isi hatiku untuk disampaikan di depan kuburan mereka berdua guna untuk menghilangkan kesedihan hatiku. 


Seusai pulang dari kuburan, Aku dikejutkan dengan keberadaan kepala sekolah SMA ku serta Teman-Teman sekelasku untuk menyampaikan belasungkawa kepadaku. Pada saat itu, Aku bertemu dengan Novita. Ia meminta maaf kepadaku atas kelakuan yang ia lakukan pada saat di sekolah. Lalu aku pun memaafkan kesalahannya. Dan sekarang kami berdua menjadi sahabat yang baik.


  • Amanat (pesan) yang terkandung pada cerpen di atas ialah "janganlah kamu suka merendahkan orang lain karena boleh jadi orang yang kamu rendahkan itu adalah orang yang lebih baik dari kamu serta bersyukurlah kamu yang masih memiliki orang tua dengan cara berbakti kepadanya"     





2 komentar untuk "Jeritan Hati"