Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Konsistensi

Cerpen: Konsistensi by Shopyan Hadi
Cerpen: Konsistensi
Gambar
shopyanhadi.blogspot.com

Konsistensi

Erik menarik nafas panjang di pagi hari. Hal itu, biasa dilakukannya tiap pagi sebagai penghapus kebisingan pemikiran yang menghampiri diri. Suara perbandingan hidup cukup familiar terdengar setiap hari, bagaikan teman masa kecilnya.

Dia merupakan anak sekolah SMA yang hidup di lingkungan perkotaan dengan kemewahan yang menghiasinya. Pagi itu, dirinya berjalan santai, menikmati libur sekolah sembari mendengarkan musik menggunakan headset.

Ia tak menyangka, dari belakang ada teman yang menyapanya. Lalu, temannya pun mencoleknya seraya berkata “Hai, gimana kabarmu”.

Mengdengar pertanyaan itu. Aku pun terdiam, tiada menjawab. Seketika itu pun, aku melihat ke samping. Ternyata itu adalah Linda. Salah satu temanku di sekolah.

Suara musik yang sedang kudengarkan kumatikan. Sepanjang perjalanan, kami berdua mengobrol tentang bisingnya kehidupan dunia penuh perbandingan.

Perbandingan takdir manusia yang tak pernah sama begitu juga kasta keturunan, membuat Erik banyak terdiam sepanjang hari. Linda sebagai temannya juga hanya bisa menghela nafas panjang seakan mengerti keadaan yang dihadapi Erik.

Kini Linda mengerti kenapa Erik hanya terdiam ketika ditanyakan kabarnya. Kemudian, Ia mengajaknya untuk duduk di bawah pohon rindang sembari menatap orang-orang yang sedang berolahraga.

Saat Asyik menikmati udara kesejukan di bawah pohon. Linda bertanya kepada Erik. “Rik, apakah kamu tahu, setiap permasalahan yang dialami tiap-tiap Manusia”. “Nggak tahu Lin”, Jawab Erik.

Linda melanjutkan perkataannya, “Setiap manusia punya tantangan sendiri dalam hidupnya”. Erik pun tak percaya ucapan temannya, dia malah beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkannya seakan tak perduli omongannya.

Linda pun merespon “Setiap manusia harus mengerti, bahwa hal terberat itu menjaga konsistensi” Ucapnya dengan lantang kepada Erik.

Dalam perjalanan pulang, Ia pun memikirkan ucapan temannya. Dia bertanya begitu mendalam ke hatinya. “Apakah aku salah berpikir tentang hidup”.

Tanpa disadari, teman yang sudah menjadi sahabat lamanya di sekolah, mengikutinya sembari berucap “Sampai kapan kamu mau berpikir seperti itu”. Kata-kata itu terdengar oleh dirinya laksana tusukan pedang yang menancap di dalam tubuhnya. Erik pun menangis, tersadar akan kesalahan berpikir yang sudah merasukinya sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dengan terharu, Ia mengucapkan terima kasih kepada temannya. Akhirnya, hati yang selama ini terbelenggu oleh pikiran-pikiran negatif kehidupan kian sirna.

Di saat itu, Linda dan Erik pun berpisah menuju rumahnya masing-masing. Kini suara familiar perbandingan itu dijadikannya motivasi untuk terus bergerak maju. Dia akhirnya bisa menerima suara bising itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun telah dilaluinya. Terhitung sudah 10 tahun pertemuan Erik dan Linda berlalu. Kini Erik sudah menjadi mahasiswa yang lulus kuliah dengan jurusan ilmu psikologi. Sementara teman SMA nya, Linda, dirinya juga sudah menjadi mahasiswa yang lulus dalam jurusan ilmu komunikasi. 

Mereka berdua sukses meraih mimpinya karena menjaga konsistensi dalam dirinya. Tantangan demi tantangan dilaluinya hingga hasil menjadi buktinya.

Penulis: Shopyan Hadi

Posting Komentar untuk "Cerpen: Konsistensi"