Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perasaan Berkabut

Perasaan Berkabut
Perasaan Berkabut
Rasa yang tak jelas menyelimuti hati, Semakin lama dia menghilang tak tahu arah. Jangan kau tanya dia ada atau tidak, karena dia sudah menghilang dari keberadaannya.

Rasa yang menghilang dari dunia, rasanya rasaku tak layak dipanggil, dia tak punya nama lagi, keberadaannya kini kosong. Lebih baik, itu dihancurkan-sehancurnya. Kau boleh menyebutnya dengan sebutan apapun itu.

Ku tak tahu bagaimana rasa ini akan punya nama dan hidup kembali. Terlalu banyak yang ia korbankan melalui rasa milikku.

Ku pernah berpikir, apakah rasa ini pantas dihukum bersama raganya. Tapi jika menghilang kedua-duanya dari muka bumi. Barulah aku mengerti rasa jujurku.

Rasa yang tidak bisa berbohong lagi, juga tidak protes, tenggelam dalam kehampaan. Hadirnya terlalu mengecewakan banyak orang.

Perasaan ingin mengakhiri kisahku, tapi ku coba tenang dan berdiam, bertanya siapakah diriku.

Bagaimana mengakhiri kisah ini dengan baik. Ku tak tahu jawabannya. Tak ada kata, aku hanya ingin fokus, menata kembali puing-puing yang sudah banyak ku runtuhkan. Meskipun bahan-bahannya belum tersedia sepenuhnya.

Diriku tidak secepat orang lain dalam mengerti, menyembuhkan rasa yang terkubur. Saat ini, ku tak tahu berapa lama dia kembali pulih. Doakan saja agar dia kembali pada ragaku.

Ku tak akan menolak kehadirannya, jika sekiranya dia kembali dalam dekapanku. Bahagia, jika memang dia mau menyatu kembali bersama raga.

Saat ini, raga yang kehilangan rasa, mencoba mengenal kembali sifat-sifatnya yang dulu tidak dirawat serta dijaga baik. Maafkan raga yang selalu mengulang gerak yang sama.

Raga yang kehilangan arah hidup, menyakiti beberapa rasa, bukan hanya rasaku tapi rasa yang dimiliki orang lain. Raga yang siap dipanggil segalanya baik maupun buruk. Namun rasa bergelombang tidak menerima itu semua.

Rasa yang hilang, menyadarkan raga akan pentingnya menghargai rasa yang kian kejelesannya hilang. Jika didekati semakin lari menjauh, tak mau mendekat.

Raga yang akhirnya lelah, mencari makna rasa yang telah hilang. Kini dia mulai beradaptasi, mencari kesembuhan atas pedih yang dialami rasa. Aku harap dua hal ini tetap menyatu bersama diriku.

Ku pikir, tulisan ini akan kuantarkan kepada rasaku, rasa yang saat ini berkabut. Mudah-mudahan diriku, jiwa serta raga bisa menyatu kembali dengan cinta. Menurutku, cinta bisa membuat sesuatu yang mustahil diraih seakan-akan ada. Meskipun terkadang hanya sebuah ilusi, tapi tidak apa, setidaknya maknanya menyepi abadi.

Posting Komentar untuk "Perasaan Berkabut"