Perasaan Berkabut
Rasa yang menghilang dari dunia, rasanya
rasaku tak layak dipanggil, dia tak punya nama lagi, keberadaannya kini kosong.
Lebih baik, itu dihancurkan-sehancurnya. Kau boleh menyebutnya dengan sebutan
apapun itu.
Ku tak tahu bagaimana rasa ini akan
punya nama dan hidup kembali. Terlalu banyak yang ia korbankan melalui rasa
milikku.
Ku pernah berpikir, apakah rasa ini
pantas dihukum bersama raganya. Tapi jika menghilang kedua-duanya dari muka
bumi. Barulah aku mengerti rasa jujurku.
Rasa yang tidak bisa berbohong lagi,
juga tidak protes, tenggelam dalam kehampaan. Hadirnya terlalu mengecewakan
banyak orang.
Perasaan ingin mengakhiri kisahku,
tapi ku coba tenang dan berdiam, bertanya siapakah diriku.
Bagaimana mengakhiri kisah ini
dengan baik. Ku tak tahu jawabannya. Tak ada kata, aku hanya ingin fokus,
menata kembali puing-puing yang sudah banyak ku runtuhkan. Meskipun bahan-bahannya
belum tersedia sepenuhnya.
Diriku tidak secepat orang lain
dalam mengerti, menyembuhkan rasa yang terkubur. Saat ini, ku tak tahu berapa
lama dia kembali pulih. Doakan saja agar dia kembali pada ragaku.
Ku tak akan menolak kehadirannya, jika
sekiranya dia kembali dalam dekapanku. Bahagia, jika memang dia mau menyatu
kembali bersama raga.
Saat ini, raga yang kehilangan rasa,
mencoba mengenal kembali sifat-sifatnya yang dulu tidak dirawat serta dijaga
baik. Maafkan raga yang selalu mengulang gerak yang sama.
Raga yang kehilangan arah hidup,
menyakiti beberapa rasa, bukan hanya rasaku tapi rasa yang dimiliki orang lain.
Raga yang siap dipanggil segalanya baik maupun buruk. Namun rasa bergelombang tidak
menerima itu semua.
Rasa yang hilang, menyadarkan raga
akan pentingnya menghargai rasa yang kian kejelesannya hilang. Jika didekati
semakin lari menjauh, tak mau mendekat.
Raga yang akhirnya lelah, mencari
makna rasa yang telah hilang. Kini dia mulai beradaptasi, mencari kesembuhan
atas pedih yang dialami rasa. Aku harap dua hal ini tetap menyatu bersama
diriku.
Ku pikir, tulisan ini akan kuantarkan kepada rasaku, rasa yang saat ini berkabut. Mudah-mudahan diriku, jiwa serta raga bisa menyatu kembali dengan cinta. Menurutku, cinta bisa membuat sesuatu yang mustahil diraih seakan-akan ada. Meskipun terkadang hanya sebuah ilusi, tapi tidak apa, setidaknya maknanya menyepi abadi.

Posting Komentar untuk "Perasaan Berkabut"