Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi bertema "Inilah Kisahku" Gambaran dari Gejolak Jiwa di Tahun 2025

Puisi Karya Shopyan Hadi Tema "Inilah Kisahku"
Puisi Karya Shopyan Hadi Tema "Inilah Kisahku".
(Gambar: shopyanhadi.blogspot.com)
Pertama kalinya, Saya menulis tema puisi "Inilah Kisahku" yang tersusun dari beberapa puisi. Puisi ini ditulis di tahun 2025. Ide ini termuat dalam pikiranku, setelah perbincangan dengan temanku, Alief Hafidzt Aulia. Ia mengisahkan ada penyair puisi yang menggabungkan beberapa puisi pada satu tema.
Sebelum saya menampilkan puisi, saya ingin Anda mengingat kata-kata dari Indra Frimawan di acara Logika Frimawan yang tayang pada channel You Tube Deddy Corbuzier, "Dunia ini terlalu sempit untuk logika manusia yang terlalu luas". Bagi saya kata-kata ini, menggambarkan bahwa tiap pikiran atau pun perasaan manusia memiliki keunikannya sendiri, kadang ada yang masuk logika, adapula yang tidak masuk logika. Berikut, 10 puisi yang menggambarkan gejolak jiwa yang pernah aku alami di tahun 2025.
Puisi 1
Diri yang Hilang
Kehilangan pasti akan dijumpai
Namun, dunia masih menerimaku berdiri
Seakan-akan mengajakku berekreasi
Melintasi alam harapan yang ku tak yakin lagi.

Canda-tawa pun kehilangan ekspresi
Warna indah pun jadi kabut malam yang sukar dikenali
Luka suara pun tak tahu kemana berlari
Bayangku pun tergerus angin sunyi

Puisi 2
Cerita Hari
Hari yang tak berbicara
Kian mengudara lewat angka
Hadirnya sebagai pembawa pesan kepada manusia
siap-siaplah atas sapaannya yang tak terduga 

Ceritanya tak selalu Indah
Melangkah bersamanya tak perlu resah
Dia suka berganti muka dengan bungkus harapan
Layaknya mutiara di dasar lautan.

Puisi 3
Mimpi
Melambung tinggi dalam bayangan narasi
Terhantam kuat oleh konsistensi
Ditempa dalam remuk kegagalan tiada henti
Tertawan oleh hari-hari yang dilalui

Terbebas dalam perubahan diri
Kisahnya tak terdengar seperti dongeng di pagi hari
Namun, harus dijaga oleh amunisi perkembangan diri
Agar tetap subur dan lestari

Puisi 4
Suara Harapan
Di mana pun, suara itu terdengar sama
Bahkan di luasnya samudera
Jeritan keadilan itu mencekam dunia
Dunia perasaan nyata dan dunia algoritma

Merekalah para pembawa harapan semesta
Di tangannya dunia seolah sempurna dalam makna
Dengan alarm etika dan hak asasi manusia
Maka tak seenaknya orang mencuci luka dengan duka

Puisi 5
Ornamen Jiwa
Sinar kehidupan membutakan diri
beragam bentuk ornamen dikagumi
Hingga membuatku terlena dalam virus materi
Jiwa pun tak lagi menyatu dalam ornamen esensi

Keindahannya tak terasa oleh indrawi
Kini ia terbenam pada tidur abadi
Bermimpi sepi tanpa makna yang tiada pergi
Hilang tanpa pijakan empati

Puisi 6
Emosi
Kadang emosi tak bermain alur
Susah ditebak layaknya catur
Alam semesta pun di suruh sujud syukur
Kehendaknya populis, namun nyatanya kufur

Hadirnya terkadang di luar narasi kehendak
Otak pun dilahap sampai berkerak 
Cermin pun tak mampu menebak
Apalagi mata, hanya bisa terbelalak

Puisi 7
Ombak Cinta
Ku rasa, ombak cinta itu datang setelah hantaman  luka
Hadirnya menghangatkan jiwa
Di saat itulah terukir harapan manusia
Dalam hiasan bingkai di alam rasa

Ombak cinta penggambar bahagia dalam bentuk rasa
Tak dapat dihapus oleh tinta kehitaman jiwa
Kekuatannya kekal dalam makna
Tak hanyut dalam suara bising dunia

Puisi 8
Nafsu Pengubahku
Nafsu yang ingin dimanjakan
Terbebas dalam gangguan
Tiada batasan dan titik temu masa depan
Gayanya bagaikan orang sopan

Seolah-olah emas kebanggaan
Padahal, kilauannya menuju keterpurukan
Setan pun tersenyum binar tak meragukan
Memuja gejolak nafsu dan bersorak dengan kata lanjutkan.

Puisi 9
Kritik
Jiwa Berhauskan Ilmu
Ilmu berpayung semesta
Kritik dibutakan ego
Refleksi dan reaksi menjadi kontras 

Nafsu membelenggu dalam makna samar
Menarik jiwa ke ruang ilmu yang Tuhan ciptakan
Di dalamnya, pikiran tercengangkan sapaan
Memanggil kritik untuk melahirkan jawaban

Puisi 10
Orkestrasi dalam Gerak
Orkestrasi dalam merdu intelektualitas
Merekat dalam syair yang bersenandung bebas
Tanpa baju gen dan nasab berkualitas
Berirama dengan hati bebas

Tempo yang kami mainkan dalam nada tegas
Dalam alunan luka yang panas
Gerak kami selalu dibatasi oleh kelas
Sementara, tekad kami selalu terdengar pantas.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat "Menulis pada awalnya, cara orang meluapkan emosi atau ekspresi diri melalui sebuah karya yang ditulisnya,". Jadi, mari ekspresikan jiwamu melalui tulisan. Sampai jumpa lagi di tema puisi berikutnya. 
Penulis: Shopyan Hadi

Posting Komentar untuk "Puisi bertema "Inilah Kisahku" Gambaran dari Gejolak Jiwa di Tahun 2025"