Dirimu adalah Rumahmu
![]() |
| Dirimu adalah Rumahmu: Karya Shopyan Hadi |
Dirimu, jika aktif melihat sosial
media hari ini, maka bisa saja menetapkan gaya hidup dengan standar orang lain.
Belum lagi, sosial media, memang nyatanya menjadi pusat eksistensi manusia
digital yang tak dapat dipungkiri lagi. Hal itu tidak salah, karena manusia
diciptakan untuk memiliki peran di dunia. Sebagaimana halnya di dunia nyata,
peran manusia digital juga memang menjadi ruang penting yang mustahil untuk
dinihilkan. Yang terpenting, rawatlah dirimu sebagaimana kau merawat rumahmu
dan perankanlah dirimu, jangan kau berperan orang lain sehingga hidupmu tak
lagi menjadi utuh.
Selanjutnya, berkaitan dengan judul,
di sini saya akan membahas 5 sub judul meliputi: suara hati, proyeksi, standar
tinggi, lawan dan musuh, serta peran diri.
1. Suara Hati
Suara di dalam diri memang tak dapat
terdengar, namun bisa dirasakan oleh tiap-tiap individu manusia. Suara ini, terletak
di dalam hati yang menjadi pusat penggerak lahirnya perilaku baik dan buruk.
Suara hati tak sepenuhnya bisa diikuti. Ajakan hati terkadang dibalut oleh
bungkus kebenaran. Padahal kebenaran yang kita yakini luput dari kebijakan berpikir
serta bertindak.
Seiring bertambah ilmu, mengurai
kebenaran lewat logika, melihat dunia tidak hitam-putih, maka bisa saja itu
menjadi pemicu bertumbuhnya pemikiran dan timbulnya kebenaran baru, dalam
melihat dunia jauh lebih luas dan lebih abu-abu dari apa yang sebelumnya dibayangkan.
Intinya mengikuti suara hati memang bukanlah sesuatu yang tidak selalu benar,
melainkan sesuatu yang kita patut pertanyakan hingga mengakar ke dalam diri. Berhubungan
hal tersebut, menjaga kejernihan hati dan kewarasan berpikir, dimungkinkan
menjadi kunci untuk kita bisa ikuti suara hati.
2. Proyeksi
Diri yang sering bercermin pada
pantulan kejadian sebelumnya, seringkali menipu kita untuk menganggap orang
lain memiliki cerminan yang sama. Hal ini semacam bias proyeksi yang dimungkinkan
timbul, salah satu sebabnya karena menganggap semua orang memiliki pola yang
sama. Misalnya, setiap orang yang memegang tangan pada bagian pinggangnya, kita
anggap dia arogan, padahal bisa jadi dia abis kerja seharian dan sedang
melepaskan lelah atau sekadar gaya lucu-lucuan.
Di satu titik, proyeksi kepada hal yang tidak seharusnya, bisa mengganggu ketentraman hati, bahkan terjangkitnya kita kepada virus kegundahan. Terkadang memproyeksikan sesuatu kepada pandangan positif, bisa menguatkan dan merawat diri jauh lebih sehat. Oleh karena itu, pola manusia memang terus berkembang dan tak selalu mudah ditebak. Pendapat orang pun bisa saja berubah tak selalu bisa kita proyeksikan sesuai dengan apa yang kita ketahui. Intinya proyeksi tak selalu mengulang kejadian yang sama.
3. Standar Tinggi
Hidup di era gejolak informasi
begitu kompleks dan beragam, standar hidup orang lain pun menjadi acuan. Perbandingan
gaya hidup menjadi tontonan. Menikmati proses kehidupan dan menerima diri hari
ini, merupakan bagian penting sekaligus langkah awal untuk mencapai diri yang
seimbang serta tenang. Standar tinggi yang kita lihat baik di dunia nyata
maupun di dunia digital, belum tentu, orang yang mendapatkannya memiliki rasa
tenang dalam dirinya. Terkadang hal sederhana, bisa membawa kepada ketenangan
dan mencapai standar tinggi dalam bentuk pola pikir. Mencapai standar tinggi tentu
bukanlah hal yang terlarang, namun, melangkahi proses dan tidak mau menerima
diri hari ini, serta ingin segera mendapatkan standar hidup tinggi layaknya
orang yang kita lihat, merupakan jembatan yang merobohkan hati.
4. Lawan dan Musuh
Dalam hidup, pasti manusia memiliki
lawan, lawan jelas berbeda dengan musuh. Lawan di sini adalah perbedaan pendapat.
Perbedaan pendapat itu, jalan sehat untuk membangun fondasi serta pemahaman
dalam berkomunikasi. Perbedaan pendapat ada yang bisa diperdebatkan dengan argumentasi
dan ada pula yang cukup diketahui tanpa berdebat. Semisal yang tak perlu
diperdebatkan, jika ada satu orang suka minum teh; satu orang lagi suka minum
kopi. Maka tak perlu panjang lebar untuk diperdebatkan atau didiskusikan,
karena hal itu bagian dari preferensi. Semisal lagi, orang yang memiliki lawan
dalam olahraga bulu tangkis. Apakah setelah bertanding, lalu menjadi musuh? Tentu
tidaklah etis, kalau setiap orang berbeda pendapat, kita menganggapnya sebagai musuh.
Seseorang yang disebut musuh,
sejatinya orang itu akan selalu mencari celah salah kita, meskipun di saat itu,
diri orang tersebut tidak salah. Tapi, musuh yang paling dekat dan paling
sejati adalah masalah yang kita hadapi hari ini. Masalah itu, ada yang bisa
menjadi musuh selamanya; ada pula yang sementara. Musuh selamanya pada tulisan
ini, maksudnya, musuh yang harus mau tidak mau kita turuti keinginannya. Contoh:
rasa lapar itu bisa menjadi musuh, sebelum terpenuhi dengan rasa kenyang. Sedangkan
maksud musuh sementara, adalah musuh yang sifatnya pilihan, dan setiap apa yang
kita pilih tentu, ada hal berdampak positif atau negatif terhadap kehidupan. Semisal,
sifat sombong, kita bisa memilih untuk terus dilanggengkan atau menggantinya
dengan sifat rendah hati.
5. Peran Diri
Setiap manusia tentu tidak selalu
memiliki pilihan peran yang sama, ada yang menjadi dokter, polisi, tentara,
guru dan lain sebagainya. Setiap orang berhak menentukan perannya di dunia ini.
Peran yang beragam menimbulkan integrasi dalam memenuhi aktivitas duniawi.
Terkadang semakin banyak tahu, memaksa
seseorang mengambil peran yang besar untuk tercapainya sesuatu yang lebih baik.
Sedangkan orang yang tidak banyak tahu, secara beban moral, dia tidak dituntut
untuk mengambil peran besar, namun, perannya tetap bisa membantu berkontribusi ke
sesuatu yang lebih baik. Peran integrasi manusia tentu menjadi pengingat bahwa perubahan
besar tidak terjadi karena hanya satu peran manusia melainkan banyak peran
manusia. Selain itu, kematian adalah pemutus peran manusia yang sewaktu-waktu
bisa terjadi kapan saja. Maka berperanlah sesuai keinginanmu bukan karena
paksaan orang lain.
Kesimpulan:
Dirimu adalah rumahmu, bukanlah berarti kau mengabaikan orang lain dan tidak mau mendengarkannya. Orang lain boleh kau dengarkan, namun, upayakan tetap menjaga peran dan keutuhan diri dalam kehidupan dunia. Dunia hanyalah peran yang kita tampilkan sementara. Dirimu ibarat rumah yang harus terus kamu rawat isi yang ada di dalamnya. Menjadi diri yang otentik jauh lebih menyenangkan dibandingkan berpura-pura menjadi orang lain.

Posting Komentar untuk "Dirimu adalah Rumahmu"